Kamis, 25 Juli 2013

Kerangka Konseptual dan Pelaporan Keuangan, Manajemen Laba, Konsekuensi Ekonomis Laporan Keuangan

KERANGKA KONSEPTUAL
Kerangka dasar ini merumuskan konsep yang mendasari penyusunan dan penyajian laporan keuangan bagi para pemakai eksternal. Tujuan kerangka dasar ini adalah untuk digunakan sebagai acuan bagi:
  1. komite penyusun standar akuntansi keuangan, dalam pelaksanaan tugasnya; 
  2. penyusun laporan keuangan, untuk menanggulangi masalah akuntansi yang belum diatur dalam standar akuntansi keuangan; 
  3. auditor, dalam memberikan pendapat mengenai apakah laporan keuangan disusun sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum; dan 
  4. para pemakai laporan keuangan, dalam menafsirkan informasi yang disajikan dalam laporan keuangan yang disusun sesuai dengan standar akuntansi keuangan.

Kerangka dasar ini membahas laporan keuangan untuk tujuan umum (general purpose financial statements, yang selanjutnya hanya disebut "laporan keuangan"), termasuk laporan keuangan konsolidasi. Laporan keuangan disusun dan disajikan sekurang-kurangnya setahun sekali untuk memenuhi kebutuhan sejumlah besar pemakai. Beberapa di antara pemakai ini memerlukan dan berhak untuk memperoleh informasi tambahan di samping yang tercakup dalam laporan keuangan. Namun demikian, banyak pemakai sangat tergantung pada laporan keuangan sebagai sumber utama informasi keuangan dan karena itu laporan keuangan tersebut seharusnya disusun dan disajikan dengan mempertimbangkan kebutuhan mereka. Laporan keuangan dengan tujuan khusus  seperti prospektus, dan perhitungan yang dilakukan untuk tujuan perpajakan tidak termasuk dalam kerangka dasar ini.
Kerangka dasar ini berlaku untuk laporan keuangan untuk semua jenis perusahaan komersial, baik sektor publik maupun sektor swasta. Perusahaan pelapor adalah perusahaan yang laporan keuangannya digunakan oleh pemakai yang mengandalkan laporan keuangan tersebut sebagai sumber utama informasi keuangan perusahaan.
Struktur kerangka konseptual sama dengan struktur teori akuntansi yang didasarkan pada proses penalaran logis. Yang dapat digambarkan dalam bentuk hierarki yang memiliki beberapa tingkatan sebagai beikut:
1. Pada tingkatan teori tertinggi (Level 1)
Dalam kerangka konseptual menyatakan ruang lingkup dan tujuan pelaporan keuangan
2. Pada tingkatan selanjutnya (Level 2)
Mendefinisikan dan mengidentifikasikan karakterisitik kualitatif dari informasi keuangan dalam elemen laporan keuangan
3. Pada tingkat operasional yang lebih rendah (Level 3)
Berkaitan dengan prinsip-prinsip dan peraturan-peraturan tentang pengukuran dan elemen laporan keuangan

Kerangka konseptual memiliki manfaat yang sangat besar bagi pemakainnya. Manfaat dari kerangka konseptual antara lain adalah untuk membangun dan menghubungkan badan pembuat konsep dengan tujuannya, menyediakan kerangka kerja untuk memecahkan masalah-masalah praktis baru yang muncul (masalah yang belum ada standarnya), meningkatkan pemahaman dan keyakinan pemakai laporan keuangan tentang pelaporan keuangan, dan menaikkan daya banding laporan keuangan antar perusahaan.
LAPORAN KEUANGAN
Laporan keuangan merupakan informasi keuangan yang disusun dan disajikan sekurang-kurangnya setahun sekali untuk memenuhi kebutuhan sejumlah besar pemakai. Laporan keuangan juga digunakan sebagai sumber utama informasi keuangan dank arena itu laporan keuangan tersebut seharusnya disusun dan disajikan dengan mempertimbangkan kebutuhan para pemakai. 
Laporan keuangan merupakan salah satu proses dari pelaporan keuangan, dimana laporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan posisi keuangan (yang dapat disajikan dalam berbagai cara misalnya, sebagai laporan arus kas, atau laporan arus dana), catatan dan laporan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari laporan keuangan. Perusahan pelapor adalah perusahaan yang laporan keuangannya digunakan oleh pemakai yang mengandalkan laporan keuangan tersebut sebagai sumber utama informasi keuangan perusahaan.

TUJUAN LAPORAN KEUANGAN
Tujuan dari laporan keuangan yakni menyediakan informasi yang berhubungan dengan posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang dapat bermanfaat begi pengguna laporan tersebut sebagai pengambilan keputusan di masa yang akan datang. Laporan keuangan juga memperlihatkan bagaimana pertanggungjawaban manajemen atas sumber daya yang telah dipercayakan kepada mereka sehingga mereka dapat membuat keputusan ekonomi. 
Pemakai dan Kebutuhan Informasi Laporan keuangan digunakan oleh pemakai yang berbeda-beda yang disebut dengan stakeholder, meliputi investor, karyawan, pemberi pinjaman, pemasok dan kreditor usaha, pelaggan, pemerintah serta lembaga-lembaganya, dan masyarakat. Beberapa kepentingannya, meliputi :
a. Investor
Informasi keuangan digunakan untuk membantu mereka menentukan apakah harus membeli, menahan atau menjual investasi tersebut. Perusahaan juga tertarik pada informasi yang memungkinkan mereka untuk menilai kemampuan perusahaan untuk membayar dividen
b. Karyawan
Informasi keuangan digunakan untuk melihat stabilitas dan profitabilitas perusahaan, serta untuk menilai kemampuan perusahaan dalam memberikan balas jasa, manfaat pensiun, dan kesempatan kerja.
c. Pemberi Pinjaman
Tertarik pada informasi keuangan yang memungkinkan mereka untuk memutuskan apakah pinjaman serta bunganya dapat dibayar saat jatuh tempo.
d. Pemasok dan kreditor lainnya
Tertarik pada informasi keuangan yang memungkinkan mereka untuk memutuskan apakah jumlah yang terhutang akan dibayar saat jatuh tempo. Kreditor usaha berkepentingan pada perusahaan dalam tenggang waktu yang lebih pendek daripada pemberi pinjaman kecuali kalau sebagai pelanggan utama meraka tergantung pada kelangsungan hidup perusahaan.
e. Pelanggan
Berkepentingan dengan informasi mengenai kelangsungan hidup perusahaan, terutama apabila mereka terlibat dalam perjanjian jangka panjang dengan, atau tergantung pada perusahaan.
f. Pemerintah
Berkepentingan dengan alokasi sumber daya dan karena itu berkepentingan dengan aktivitas perusahaan dan untuk mengatur aktivitas perusahaan, menetapkan kebijakan pajak dan sebagai dasar untuk menyusun statistik pendapatan nasional dan statistik lainnya.
g. Masyarakat
Laporan keuangan dapat membantu masyarakat dengan menyediakan informasi kecenderungan (trend) dan perkembangan terakhir kemakmuran perusahaan serta rangkaian aktivitasnya.

ASUMSI DASAR
Kelangsungan Usaha (Going Concern)
Dalam menyusun laporan keuangan, manajemen membuat penilaian tentang kemampuan entitas untuk mempertahankan kelangsungan usaha. Entitas menyusun laporan keuangan berdasarkan asumsi kelangsungan usaha, kecuali manajemen bertujuan untuk melikuidasi entitas atau menghentikan perdagangan, atau tidak mempunyai alternatif lainnya yang realistis selain melakukannya.
Jika manajemen menyadari (dalam membuat penilaiannya) mengenai adanya ketidakpastian yang material sehubungan dengan peristiwa atau kondisi yang dapat menimbulkan keraguan yang signifikan tentang kemampuan entitas untuk mempertahankan kelangsungan usaha, maka entitas mengungkapkan ketidakpastian tersebut. Jika entitas menyusun laporan keuangan tidak berdasarkan asumsi kelangsungan usaha, maka entitas mengungkapkan fakta tersebut, bersama dengan dasar yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan dan alasan mengapa entitas tidak dipertimbangkan sebagai entitas yang dapat menggunakan asumsi kelangsungan usaha. Jika selama ini entitas menghasilkan laba dan mempunyai akses ke sumber pembiayaan, maka dapat disimpulkan bahwa asumsi kelangsungan usaha telah sesuai tanpa melalui analisis rinci.

Dasar Akrual (Accrual Basis)
Entitas menyusun laporan keuangan atas dasar akrual, kecuali laporan arus kas. Ketika akuntansi berbasis akrual digunakan, entitas mengakui pos-pos sebagai aset, laibilitas, ekuitas, pendapatan dan beban (unsur-unsur laporan keuangan) ketika pos-pos tersebut memenuhi definisi dan kriteria pengakuan untuk unsure unsur tersebut dalam Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan.

KARAKTERISTIK KUALITATIF LAPORAN KEUANGAN
Karakteristik kualitatif dari informasi keuangan mengidentifikasi jenis-jenis informasi yang paling berguna bagi investor yang ada dan calon investor, pemberi pinjaman maupun kreditur lainnya untuk membuat keputusan mengenai entitas pelaporan berdasarkan pada laporan keuangan yang telah disajikan. Informasi keuangan akan berguna bagi investor yang ada dan calon investor, pemberi pinjaman maupun kreditur lainnya maka informasi tersebut harus relevan dan disajikan dengan jujur. 

Pengguna dari informasi akuntansi
Setiap pembuat keputusan menilai informasi apa yang berguna dan penilaian tersebut dipengaruhi oleh faktor seperti keputusan yang akan dibuat, metode pembuatan keputusan yang akan digunakan, informasi yang telah diperoleh dari sumber lainnya, dan kapasitas dari pembuat keputusan.

Kriteria Pervasif: Manfaat > Biaya
Biaya adalah kendala pervasif dari informasi yang dapat disediakan oleh laporan keuangan. Pelaporan informasi keuangan memerlukan biaya sehingga penting untuk memastikan bahwa biaya yang dikeluarkan sebanding dengan manfaat dari pelaporan informasi tersebut. 

Kualitas Fundamental
Karakteristik kualitatif fundamental adalah relevan dan penyajian yang jujur. Informasi keuangan akan berguna bagi investor yang ada dan calon investor, pemberi pinjaman maupun kreditur lainnya maka informasi tersebut harus relevan dan disajikan dengan jujur.

Relevan 
Informasi keuangan yang relevan adalah informasi yang mampu untuk membuat perbedaan dalam keputusan yang dibuat oleh pengguna informasi keuangan. Informasi mungkin akan mampu untuk membuat perbedaan dalam sebuah keputusan sekalipun beberapa pengguna memilih untuk tidak mengambil manfaat dari informasi tersebut atau telah mengetahui informasi tersebut dari sumber informasi lainnya. Informasi keuangan akan mampu untuk membuat perbedaan dalam sebuah keputusan jika informasi tersebut memiliki nilai prediktif dan confirmatory value. Nilai prediktif dan confirmatory value  saling berkaitan. Informasi yang memiliki nilai prediktif seringkali juga memiliki confirmatory value. 

Nilai prediktif. Informasi keuangan memiliki nilai prediktif jika informasi tersebut dapat digunakan sebagai suatu input dalam proses yang dilakukan oleh pengguna informasi untuk memprediksi hasil di masa depan.

Confirmatory value. Informasi keuangan memiliki confirmatory value jika informasi tersebut memberikan umpan balik (mengonfirmasi atau mengubah) terhadap evaluasi sebelumnya. 

Penyajian yang Jujur (Faithfull Representation)
Laporan keuangan menyajikan fenomena ekonomi dalam huruf dan angka. Untuk menjadi berguna, maka informasi keuangan tidak hanya harus menyajikan fenomena yang relevan tetapi juga harus menyajikan fenomena tersebut dengan jujur. Agar informasi keuangan tersebut dikatakan disajikan dengan jujur maka informasi tersebut harus lengkap, netral, dan bebas dari kesalahan. 

Lengkap. Sebuah penggambaran yang lengkap mencakup seluruh informasi yang berguna bagi pengguna informasi untuk memahami fenomena yang digambarkan, termasuk juga semua penjelasan dan deskripsinya. 

Netral. Sebuah penggambaran yang netral adalah tanpa bias dalam pemilihan atau penyajian informasi keuangan. Penggambaran yang netral tidak diarahkan atau dimanipulasikan untuk meningkatkan probabilitas bahwa informasi keuangan akan diterima dengan baik oleh pengguna. 

Bebas dari kesalahan. Penyajian yang jujur tidak berarti akurat dalam segala aspek. Bebas dari kesalahan berarti bahwa tidak terdapat kesalahan atau penghilangan dalam penggambaran fenomena dan proses yang digunakan untuk menghasilkan informasi yang dilaporkan telah dipilih dan diaplikasikan tanpa kesalahan dalam prosesnya. 

Kualitas Ideal
Komparabilitas, verifiabilitas, ketepatwaktuan, dan dapat dipahami adalah karakteristik kualitatif yang meningkatkan kegunaan informasi yang relevan dan disajikan dengan jujur. Karakteristik kualitatif ini juga membantu untuk menentukan dua cara yang akan digunakan untuk menggambarkan fenomena jiak kedua cara tersebut sama-sama relevan dan disajikan dengan jujur. 

Komparabilitas
Keputusan pengguna melibatkan pemilihan alternatif baik itu untuk membeli atau mempertahankan suatu investasi, atau berinvestasi pada satu entitas pelaporan atau pada entitas pelaporan lainnya. Konsekuensinya, informasi mengenai sebuah entitas pelaporan akan lebih berguna jika informasi tersebut dapat dibandingkan dengan informasi yang sama dari entitas lainnya dan dengan informasi yang sama mengenai entitas yang sama untuk periode atau tanggal lainnya. Komparabilitas adalah karakteristik kualitatif yang memungkinkan pengguna untuk mengidentifikasi dan memahami kesamaan dalam dan perbedaan antara item-item. Komparabilitas tidak berkaitan dengan satu item, perbandingan setidaknya memerlukan dua item. Konsistensi mengacu pada penggunaan metode yang sama untuk item yang sama, dari satu periode ke periode berikutnya dalam suatu entitas pelaporan atau dalam satu periode diantara entitas yang berbeda. komparabilitas adalah tujuan sedangkan konsistensi membantu untuk mencapai komparabilitas tersebut. 

Verifiabilitas
Verifiabilitas membantu memastikan pengguna bahwa informasi menyajikan dengan jujur fenomena ekonomi yang seharusnya disajikan. Verifiabilitas berarti bahwa pengguna informasi yang independen dan berpengetahuan yang berbeda dapat mencapai suatu konsensus bahwa penggambaran tertentu adalah penyajian yang jujur. 

Ketepatwaktuan (Timeliness)
Ketepatwaktuan berarti bahwa informasi tersedia bagi pembuat keputusan pada waktu yang tepat untuk mampu mempengaruhi keputusan mereka. Secara umum, semakin lama umur suatu informasi maka informasi tersebut akan menjadi kurang berguna. 

Dapat Dipahami
Pengklasifikasian, pengkarakteristikan, dan penyajian informasi dengan jelas dan tepat membuat informasi tersebut menjadi dapat dipahami. Beberapa fenomena memiliki kerumitan bawaan dan tidak dapat dengan mudah untuk dipahami. Pengecualian informasi tersebut dalam laporan keuangan mungkin menjadikan informasi keuangan lebih mudah untuk dipahami tetapi laporan tersebut tidak lengkap dan mungkin akan menyesatkan. Oleh karena itu, laporan keuangan dipersiapkan bagi pengguna yang memiliki pengetahuan memadai mengenai aktivitas bisnis dan ekonomi dan mampu untuk menganalisa dan mereview informasi tersebut. 

Batasan Pengakuan
Materialitas
Informasi dikatakan material jika penghilangan atau salah saji informasi tersebut dapat mempengaruhi keputusan pengguna yang mendasarkan keputusannya pada informasi keuangan tersebut.


UNSUR LAPORAN KEUANGAN
Posisi Keuangan 
  1. Aktiva, merupakan manfaat ekonomi yang diharapkan oleh perusahaan sebagai hasil dari transaksi kejadian-kejadian masa lalu.
  2. Kewajiban, merupakan utang perusahaan yang ditimbulkan dari peristiwa atau transaksi masa lalu.
  3. Aktiva Bersih, merupakan nilai residu atas aktiva perusahaan setelah dikurang dengan kewajiban.
Kinerja (Laba Rugi)
  1. Penghasilan, merupakan penambahan atau pemasukan aktiva atau penurunan kewajiban yang menyebabkan kenaikan ekuitas yang berasal dari operasi utama perusahaan dan bukan berasal dari pemilik.
  2. Beban, merupakan penurunan aktiva atau penambahan kewajiban yang menyebabkan penurunan ekuitas yang berasal dari operasi utama perusahaan dan bukan dari pembagian kepada penanaman modal.
PRINSIP DASAR
a. Historical Cost (Biaya Historis)
Aktiva dicatat sebesar pengeluaran kas atau setara dengan kas yang dibayar atau sebesar nilai wajar dari imbalan yang diberikan untuk memperoleh aktiva tersebut pada saat perolehan.dan kewajiban dicatat sebesar jumlah yang diterima sebagai penukar dari kewajiban.
b. Current Cost (Biaya Kini)
Aktiva dinilai dalam jumlah kas atau setara dengan kas yang seharusnya dibayar bila aktiva yang sama atau setara aktiva diperoleh sekarang. Kewajiban dinyatakan dalam jumlah kas (atau setara kas) yang tidak didiskontokan yang mungkin akan diperlukan untuk menyelesaikan kewajiban sekarang.
c. Realisable / Settlement Value (Nilai Realisasi / Penyelesaian)
Aktiva dinyatakan dalam jumlah kas atau setara dengan kas yang dapat diperoleh sekarang dengan menjual aktiva dalam pelepasan normal dan kewajiban dinyatakan sebesar nilai penyelesaian; yaitu, jumlah kas atau setara dengan kas yang tidak didiskontokan yang diharapkan akan dibayarkan untuk memenuhi kewajiban dalam pelaksanaan usaha normal.
d. Fair Value
Jumlah nilai dimana aset dapat ditukarkan antara pihak-pihak yang berpengetahuan dan bersedia dalam arm‘s length transaction. IASB telah mengambil langkah yang memberikan perusahaan pilihan untuk menggunakan nilai wajar sebagai dasar untuk pengukuran aset keuangan dan kewajiban keuangan.
e. Revenue recognition
Pendapatan harus diakui apabila kemungkinan besar bahwa manfaat ekonomi masa depan akan mengalir ke perusahaan dan pengukuran dapat dilakukan secara andal.
f. Expense recognition
Pengeluaran atau penggunaan aset atau menimbulkan kewajiban (atau kombinasi dari keduanya) selama periode sebagai akibat dari penyerahan atau produksi barang dan / atau memberikan jasa.

MANAJEMEN LABA
Perbedaan yang sangat tipis antara manajemen laba dengan fraud membuat batasan dan defenisi dari manajemen laba itu sendiri menjadi tidak jelas. Pihak yang concern dengan hal ini mencoba mendefenisikannya, baik dari pemahaman positif dan negatif. Ada pihak yang mendefenisikan manajemen laba sebagai kecurangan yang dilakukan seorang manajer untuk mengelabui orang lain, sedangkan pihak lain mendefenisikannya sebagai aktivitas yang wajar yang dilakukan manajer dalam menyusun laporan keuangan.
Secara umum manajemen laba didefenisikan sebagai upaya manajer perusahaan untuk mengintervensi atau mempengaruhi informasi-informasi dalam laporan keuangan dengan tujuan untuk mengelabui stakeholder yang ingin mengetahui kinerja dan kondisi yang sebenarnya. Istilah intervensi dan mengelabui inilah yang kemudian diartikan sebagai kecurangan dalam hal praktek manajemen laba. Sementara pihak lain tetap menganggap aktivitas manajerial ini bukan sebagai kecurangan. Alasannya adalah intervensi itu dilakukan masih dalam kerangka standar akuntansi, yaitu masih menggunakan metode dan prosedur akuntansi yang diterima dan diakui secara umum. Hal ini menunjukkan bahwa manajemen laba berada dalam daerah abu-abu (grey area) antara aktivitas yang diijinkan prinsip akuntansi dan kecurangan. Apalagi pada dasarnya manajemen laba sulit untuk diobservasi oleh pemakai laporan keuangan. 
Manajemen laba didefenisikan sebagai upaya manajer perusahaan untuk mengintervensi atau mempengaruhi informasi-informasi dalam laporan keuangan dengan tujuan untuk mengelabui stakeholder yang ingin mengetahui kinerja dan kondisi yang sebenarnya. Manajemen laba merupakan sesuatu yang diperbolehkan sepanjang dilakukan sesuai dengan metode dan prosedur akuntansi yang diperbolehkan. Sementara apabila ada manajer melakukan manajemen laba dengan sesuatu yang melanggar metode dan prosedur akuntansi, maka hal yang demikian dapat dikategorikan sebagai “fraud”. Pola manajemen laba dibagi 4, yaitu:
  • Taking a bath: pola ini dapat ditemukan saat terjadinya reorganisasi. Jika perusahaan harus melaporkan adanya rugi, maka sekalian saja perusahaan melaporkan adanya rugi yang sangat besar. Konsekuensinya adalah penghapusan asset, menyediakan untuk biaya di masa depan dan secara umum “pembersihan”. Karena accruals reversal, maka ini akan meningkatkan kemungkinan adanya profit di masa yang akan datang. Efeknya, pencatatan penghapusan yang besar bisa menggaransi adanya laba di masa depan.
  • Income minimization: biasanya pola ini dilakukan pada masa-masa laba yang didapat sedang tinggi. Pola ini mencakup penghapusan capital assets dan intangibles, biaya periklanan, biaya R&D, biaya eksplorasi pada sektor migas dan lain-lain. 
  • Income maximization: berdasarkan positive accounting theory (PTA), manajer bisa terlibat dalam menaikkan pemasukan dengan tujuan bonus. Perusahaan yang melanggar debt covenant juga biasanya menaikkan laba mereka.
  • Income smoothing: dari perspektif yang berlawanan, manajer menghindari resiko dengan cara memilih alternatif bonus yang tidak terlalu bervariasi. Akibatnya, manajer meratakan laba supaya mendapatkan bonus yang terus-menerus.
MOTIVASI MANAJEMEN LABA
Ada berbagai motivasi yang mendorong dilakukannya manajemen laba yang termasuk dalam Positive Accounting Theory (PAT) atau teori akunting positif yang mengemukakan tiga hipotesis motif dilakukannya manajemen laba, yaitu bonus plan, debt covenant, political cost hypothesis. Teori akunting positif berkaitan dengan memprediksi tindakan yang dilakukan manajer perusahaan dalam merespon standar-standar akunting baru. PAT tidak berarti pilihan kebijakan akuntansi satu perusahaan harus terbatas namun malah memberikan banyak pilihan. Selain ketiga hipotesis tersebut terdapat juga beberapa motivasi lain melakukan manajemen laba:
a. Hipotesis program bonus (the bonus plan hypothesis)
Hipotesis ini dipilih karena manajer ingin melaporkan laba yang akan datang menjadi laba periode ini. Motivasi manajer yang menerapkan hipotesis ini biasanya mengharapkan bonus yang tinggi.Jika bonus mereka bergantung pada laba yang dilaporkan maka mereka bisa melaporkan laba bersih yang setinggi-tingginya. Tentu saja sesuai dengan proses akrual ini juga berarti laba yang akan datang menjadi makin kecil.
b. Hipotesis perjanjian hutang (the debt covenant hypothesis)
Semakin dekat suatu perusahaan dalam melanggar perjanjian utang maka semakin mungkin manajer perusahaan untuk menggeser laba yang akan datang menjadi laba di periode ini. Alasannya adalah peningkatan laba bersih yang dilaporkan akan mengurangi terjadinya keteledoran teknis. Perjanjian utang banyak mengandung covenants yang mana harus dipatuhi oleh peminjam selama masa perjanjian.Semakin tinggi rasio hutang/ekuitas suatu perusahaan yang ekuivalen dengan semakin dekatnya perusahaan terhadap kendala-kendala dalam perjanjian hutang dan semakin besar probabilitas pelanggaran perjanjian, semakin mungkin manajer untuk menggunakan metode-metode akuntansi yang meningkatkan income.
c. Hipotesis biaya politik (the political cost hypothesis)
Motivasi regulasi politik merupakan motivasi manajemen dalam mensiasati berbagai regulasi pemerintah.Perusahaan yang terbukti menjalankan praktik pelanggaran terhadap regulasi anti trust dan anti monopoli, manajernya melakukan manipulasi laba dengan menurunkan laba yang dilaporkan.Perusahaan juga melakukan manajemen laba dengan tujuan untuk mempengaruhi keputusan pengadilan terhadap perusahaan yang mengalami damage award.Selain itu, PPh juga merupakan motivasi dalam manajemen laba. Pemilihan metode akuntansi dalam pelaporan laba akan memberikan hasil yang berbeda terhadap laba yang dipakai sebagai dasar perhitungan pajak.
d. Motivasi pajak (taxation motivation)
Salah satu insentif yang dapat memicu manajer untuk melakukan rekayasa labaadalah untuk meminimalkan pajak atau total pajak yang harus dibayarkan perusahaan.
e. Pergantian CEO (retirement of executive officer)
Banyak motivasi yang muncul saat terjadi pergantian CEO. Salah satunya adalah pemaksimalan laba untuk meningkatkan bonus pada saat CEO mendekati masa pensiun.
f. IPO (initial public offering)
Perusahaan yang baru pertama kali menawarkan harga pasar, sehingga terdapatmasalah bagaimana menetapkan nilai saham yang ditawarkan. Oleh karena itu, informasilaba bersih dapat digunakan sebagai sinyal kepada calon investor tentang nilai.
Manajemen mengemukakan beberapa tujuan dilakukannya earnings management, diantaranya adalah untuk memenuhi masing-masing tujuan dan kepentingan dalam rangka menjalankan kegiatan bisnisnya, yaitu: 
  1. Manajemen laba dapat meningkatkan kepercayaan pemegang saham terhadap manajer. Manajemen laba berhubungan erat dengan tingkat perolehan laba atau prestasi usaha suatu organisasi, hal ini karena tingkat keuntungan atau laba dikaitka n dengan prestasi manajemen dan juga besar kecilnya bonus yang akan diterima oleh manajer.
  2. Manajemen laba dapat memperbaiki hubungan dengan pihak kreditor. Perusahaan yang terancam default yaitu tidak dapat memenuhi kewajiban pembayaran utang pada waktunya, perusahaan berusaha menghindarinya dengan membuat kebijakan yang dapat meningkatkan pendapatan maupun laba. Dengan demikian akan memberi posisi bargaining yang relatif baik dalam negoisasi atau penjadwalan ulang utang antara pihak kreditor dengan perusahaan.
  3. Manajemen laba dapat menarik investor untuk menanamkan modalnya terutama pada perusahaan go publik pada saat IPO.
KONSEKUENSI EKONOMIS LAPORAN KEUANGAN
Konsekuensi ekonomi adalah konsep yang menyatakan bahwa walaupun bertentangangan dengan implikasi teori pasar modal efisien pilihan kebijakan akuntansi dapat mempengaruhi nilai suatu perusahaan. Hal ini berarti kebijakan akuntansi dan perubahan kebijakan akuntansi tersebut merupakan suatu permasalahan, terutama bagi manajemen. Hal ini dikarenakan akan mengakibatkan manager mengubah hasil operasi perusahaan yang sesungguhnya. 
Konsekuensi ekonomis muncul karena perusahaan melakukan kontrak seperti kompensasi eksekutif dan kontrak utang. Adanya kontrak tersebut memberikan motivasi kepada manajemen untuk melakukan pemilihan kebijakan akuntansi yang dapat mempengaruhi kinerja perusahaan yang sesungguhnya. Oleh karena itu, kebijakan akuntansi yang digunakan dapat merupakan sumber informasi yang penting bagi investor. Manajer dapat menggunakan sumber informasi berupa pilihan kebijakan akuntansi sebagai signal tentang informasi perusahaan. Konsekuensi ekonomi diperlukan untuk mengetahui respon pasar atas perubahan kebijakan akuntansi walaupun perubahan tersebut tidak mempengaruhi secara langsung terhadap arus kas perusahaan.
Pelaporan keuangan memiliki beberapa konsekuensi ekonomis (economic consequences of financial reporting) yakni:
  1. Informasi keuangan dapat mempengaruhi distribusi kekayaan diantara investor.  Investor yang memperoleh informasi lebih banyak (mempekerjakan analis sekuritas) mungkin mampu meningkatkan kekayaan mereka daripada investor yang kurang informasi.
  2. Informasi keuangan dapat mempengaruhi tingkatan risiko yang diterima perusahaan.  Fokus pada jangka pendek, memiliki risiko lebih kecil, tetapi mungkin mengandung efek-efek jangka panjang yang merugikan (long-term detrimental effects).
  3. Informasi keuangan dapat mempengaruhi tingkat formasi modal dalam ekonomi dan menghasilkan realokasi kekayaan antara konsumsi dan investasi dalam ekonomi.
  4. Informasi keuangan dapat mempengaruhi bagaimana investasi dialokasikan dalam perusahaan.
Sumber: Berbagai Sumber

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar