Senin, 09 Desember 2013

CASE STUDY: Watt Widget Company

Watt Widget Company memproduksi pernak-pernik dan membeli sebagian produk untuk dijual kembali tanpa ada proses tambahan. Proses produksi relative sederhana, dengan proses rendah teknologi dan banyak operasi yang dikendalikan secara manual. 
Agen pembelian menggunakan berbagai sumber informasi untuk menentukan kapan dan berapa banyak yang harus dipesan. Tiga lembar formulir permintaan pembelian diterima dari berbagai supervisor, yang memuat informasi mengenai bahan apa yang dibutuhkan dan berapa banyak bahan tersebut dibutuhkan. 
Pesanan penjualan yang belum terpenuhi dan laporan produk jadi per minggu digunakan untuk mengevaluasi produksi saat ini dan menghitung perencanaan produksi di masa yang akan datang, dan  me-review bahan baku yang masih ada di tangan. Agen pembelian me-review file kartu persediaan yang ada untuk memastikan sejarah penggunaan dan waktu tunggu pemasok pesanan setiap pemasok. Saat pesanan besar diterima oleh manajer penjualan, ia memberitahu agen pembelian sehingga ia bisa mengevaluasi kebutuhan bahan baku.

Agen pembelian menyiapkan tiga lembar pesanan pembelian, menelaahnya dengan manajer penjualan, dan mendapatkan tanda tangannya sebelum mendistribusikan pesanan. Agen pembelian akan mendistribusikan salinan pesanan  pembelian. Salinan 1 untuk pemasok, salinan 2 untuk supervisor gudang, dan salinan 3 diarsip diurut berdasarkan alphabet pemasok. Agen pembelian juga menyiapkan sebuah catatan pesanan pembelian untuk mengendalikan semua pesanan yang diterbitkan dan untuk menjamin bahwa pesanan telah diterima dan dilaporkan dalam laporan penerimaan barang. 

Saat bahan baku diterima, karyawan bagian penerimaan menghitung bahan dan menyiapkan tiga lembar formulir penerimaan barang. Salinan 1 untuk agen pembelian, salinan 2 untuk akuntan biaya, salinan 3 disimpan dan diarsip urut bernomor. Bila bahan yang diterima adalah produk jadi, karyawan penerimaan mengirimkan salinan pertama laporan penerimaan ke manajer penjualan, yang membuat salinan untuk memperbaharui catatan persediaan barang jadi dan kemudian meneruskan salinan asli ke agen pembelian. Bila pesanan selesai, karyawan penerimaan juga mengirimkan salinan pesanan pembelian mereka ke agen pembelian, yang akan menggunakannya untuk menyatakan penerimaan bahan pada catatan pesanan pembeliannya. Akuntan biaya menggunakan salinan laporan penerimaannya untuk memposkan jumlah yang diterima ke catatan kartu bahan baku. Kemudian ia mengarsipkan laporan itu dalam urutan numeris, guna memastikan kelengkapan nomor.

Penjadwalan dan pengendalian produksi didasarkan pada review laporan mingguan barang jadi yang ada dan produk yang dipesan dan atas review barang dalam proses. Tidak ada sistem formal untuk mengevaluasikan kinerja toko atau untuk menelusuri arus pesanan melalui toko. 
Saat menentukan kualitas produk yang diperlukan, supervisor produksi membuktikan ketersediaan bahan baku yang diperlukan dengan supervisor gudang. 

Risk Eksposures and The Internal Control Structure, dan General Control and Application Controls

RISK EKSPOSURES AND INTERNAL CONTROL STRUCTURES
Pengendalian dan Eksposur
Pengendalian dibutuhkan untuk mengurangi eksposur terhadap resiko. Eksposur mencakup potensi dampak finansial akibat suatu kejadian dikalikan dengan probabilitas terjadinya kejadian tersebut. Istilah risiko merupakan sinonim untuk istilah probabilitas terjadinya suatu kejadian. Oleh karena itu, eksposur adalah risiko dikalikan konsekuensi finansial atas risiko tersebut.
Kejadian yang tidak diharapkan, seperti banjir atau pencurian, tidak semata-mata merupakan eksposur. Eksposur organisasi terhadap kejadian macam ini merupakan potensi kerugian finansial dikalikan probabilitas terjadinya kejadian tersebut. Eksposur tidak semata-mata terjadi akibat kurangnya pengendalian. Pengendalian berguna mengurangi eksposur, tetapi pengendalian tidak dapat mempengaruhi penyebab terjadinya eksposur.

Gambar: Eksposur bisnis yang biasa terjadi

TRANSAKSI DALAM MATA UANG ASING, DERIVATIF DAN LINDUNG NILAI #5 | SFAS 52: Foreign Currency Translation

Penerapan pernyataan ini akan mempengaruhi pelaporan keuangan sebagian besar perusahaan yang beroperasi di luar negeri. Operasi dan karakteristik ekonomi beragam jenis operasi asing akan dibedakan dalam akuntansi untuk mereka. Penyesuaian untuk perubahan kurs mata uang yang dikeluarkan dari laba bersih bagi fluktuasi yang tidak mempengaruhi arus kas dan termasuk bagi mereka yang melakukannya. Persyaratan mencerminkan kesimpulan umum ini:
  1. Dampak ekonomi dari perubahan nilai tukar pada operasi yang relatif mandiri dan terintegrasi dalam negara asing berhubungan dengan investasi bersih dalam operasi itu. Selisih kurs yang timbul dari konsolidasi operasi asing tidak mempengaruhi arus kas dan tidak termasuk dalam laba bersih.
  2. Dampak ekonomi dari perubahan nilai tukar pada kegiatan operasi luar negeri yang merupakan perpanjangan dari operasi induk domestik berhubungan dengan aset dan kewajiban individu dan dampak arus kas induk secara langsung. Dengan demikian, keuntungan dan kerugian dalam operasi seperti pertukaran termasuk dalam laba bersih.
  3. Kontrak, transaksi, atau saldo yang pada kenyataannya, lindung risiko nilai tukar akan diperhitungkan sebagai lindung nilai tanpa memperhatikan bentuk mereka.

Lebih khusus, pernyataan ini menyajikan standar untuk penjabaran mata uang asing yang dirancang untuk (1) memberikan informasi yang umumnya kompatibel dengan dampak ekonomi yang diharapkan dari perubahan kurs pada arus kas perusahaan dan ekuitas dan (2) mencerminkan dalam hasil laporan konsolidasi keuangan dan hubungan yang diukur dalam mata uang utama di mana setiap entitas melakukan bisnisnya (disebut sebagai "mata uang fungsional").

TRANSAKSI DALAM MATA UANG ASING, DERIVATIF DAN LINDUNG NILAI #4 | ISAK NO. 4 : Interpretasi atas Paragraf 32 PSAK 10 Tentang Alternatif Perlakuan yang Diizinkan atas Selisih Kurs

Kutipan SAK 
Paragraf 32 PSAK 10 memuat ketentuan sebagai berikut: 
"Selisih kurs dapat disebabkan karena suatu devaluasi atau depresiasi luar biasa suatu mata uang dimana tidak mungkin dilakukan hedging  dan menimbulkan kewajiban  yang tak terselesaikan akibat perolehan aktiva yang harus dibayar dalam suatu mata uang asing. Selisih kurs tersebut dapat dimasukkan sebagai nilai tercatat (carrying amount) aktiva yang bersangkutan dengan pengertian nilai tercatat yang disesuaikan tersebut tidak melampaui jumlah terendah antara biaya pengganti (replacement cost) dan  jumlah yang mungkin diperoleh kembali (amount recoverable) dari penjualan atau penggunaan aktiva tersebut. Alternatif yang dipilih harus diungkapkan secukupnya"

Alasan Interpretasi 
Dalam penerapan paragraf 32 tersebut di atas, timbul berbagai pertanyaan sebagai
berikut:
  • Apa yang dimaksud dengan "depresiasi luar biasa" dalam paragraf 32? 
  • Akibat gejolak moneter, terjadi akselerasi depresiasi rupiah yang mengakibatkan terjadinya kesulitan dalam penentuan premi hedging serta tingginya tingkat premi instrumen  hedging  pada periode tertentu. Apakah kondisi tersebut dapat memenuhi persyaratan "tidak dimungkinkan dilakukan hedging"  sebagaimana dimaksud dalam paragraf 32? 
  • Apabila persyaratan  yang ditentukan dalam paragraf 32 dapat terpenuhi, bagaimana melakukan kapitalisasi selisih kurs? 

TRANSAKSI DALAM MATA UANG ASING, DERIVATIF DAN LINDUNG NILAI #3 | PSAK 52: Mata Uang Pelaporan

Pada umumnya laporan keuangan dilaporkan dalam mata uang lokal. Namun demikian, apabila perusahaan menggunakan mata uang selain mata uang lokal (misalnya dolar Amerika) sebagai mata uang pelaporan, maka mata uang pelaporan tersebut harus merupakan mata uang fungsional. Mata uang fungsional dapat merupakan mata uang rupiah atau mata uang selain rupiah (misalnya dolar Amerika), tergantung pada fakta substansi ekonominya.

Laporan keuangan dimaksudkan untuk memberikan informasi finansial tentang kinerja, posisi keuangan, dan arus kas perusahaan. Laporan keuangan dihasilkan dari catatan akuntansi perusahaan, sehingga mata uang yang digunakan dalam catatan akuntansi adalah mata uang yang digunakan dalam laporan keuangan. Dengan konsep ini prosedur pengukuran kembali (remeasurement) dari catatan akuntansi laporan keuangan atau penjabaran laporan keuangan (translation) tidak diperlukan lagi, kecuali untuk periode yang diperbandingkan apabila perusahaan untuk pertama kali mengadopsi Standar ini dan untuk laporan keuangan perusahaan yang dikonsolidasikan, karena pada hakekatnya laporan keuangan telah disajikan pada mata uang fungsionalnya.

Mata Uang Fungsional
Suatu mata uang merupakan mata uang fungsional apabila memenuhi indikator berikut ini secara menyeluruh (kumulatif):
  1. Indikator arus kas: arus kas yang berhubungan dengan kegiatan utama perusahaan didominasi oleh mata uang tertentu,
  2. Indikator harga jual: harga jual produk perusahaan dalam periode jangka pendek sangat dipengaruhi oleh pergerakan nilai tukar mata uang tertentu atau produk perusahaan secara dominan dipasarkan untuk ekspor, dan
  3. Indikator biaya: biaya-biaya perusahaan secara dominan sangat dipengaruhi oleh pergerakan mata uang tertentu.

TRANSAKSI DALAM MATA UANG ASING, DERIVATIF DAN LINDUNG NILAI #2 | PSAK 11: Penjabaran Laporan Keuangan dalam Mata Uang Asing

Tujuan
Suatu perusahaan dapat melakukan aktivitas yang menyangkut valuta asing (foreign activities) dalam dua cara : melakukan transaksi dalam mata uang asing atau memiliki kegiatan usaha luar negeri  (foreign operations). Untuk memasukkan kegiatan usaha luar negeri pada laporan keuangan perusahaan. Laporan keuangan kegiatan usaha luar negeri harus dijabarkan kedalam mata uang pelaporan perusahaan.
Pernyataan ini mengatur akuntansi untuk penjabaran laporan keuangan dalam mata uang asing yang meliputi penentuan kurs yang digunakan dan pengakuan pengaruh keuangan dari perubahan kurs valuta asing dalam laporan keuangan.

Kegiatan Usaha Luar Negeri (Foreign Operation) yang Merupakan Bagian Integral dari Perusahaan Pelapor
Laporan keuangan dari suatu kegiatan usaha luar negeri yang merupakan bagian integral dari perusahaan harus dijabarkan dengan menggunakan prosedur sebagaimana dinyatakan PSAK 10 tentang Transaksi dalam Mata Uang Asing, seolah-olah transaksi kegiatan usaha luar negeri tersebut merupakan transaksi perusahaan pelapor sendiri.

Entitas Asing
Dalam menjabarkan laporan keuangan suatu entitas asing untuk ditentukan / diinkorporasi dengan laporan keuangan pelapor, digunakan prosedur sebagai berikut :
  1. Aset dan kewajiban entitas asing, baik moneter maupun non moneter dijabarkan dengan menggunakan kurs penutup (closing rate)
  2. Pendapatan dan beban entitas asing dijabarkan dengan menggunakan kurs yang berlaku pada tanggal transaksi.
  3. Selisih kurs yang terjadi disajikan sebagai selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan dan disajikan sebagian dari ekuitas sampai pelepasan investasi neto yang yang bersangkutan.

TRANSAKSI DALAM MATA UANG ASING, DERIVATIF DAN LINDUNG NILAI #1 | PSAK 10: Transaksi Mata Uang Asing

Tujuan
Suatu perusahaan dapat melakukan aktivitas yang menyangkut valuta asing (foreign activities) dalam dua cara yakni melakukan transaksi dalam mata uang asing atau memiliki kegiatan usaha luar negeri (foreign operations). Untuk memasukkan transaksi dalam valuta asing pada laporan keuangan suatu perusahaan, transaksi tersebut harus dinyatakan dalam mata uang pelaporan perusahaan. 
Pernyataan ini mengatur akuntansi untuk transaksi dalam mata uang asing yang meliputi penentuan kurs yang digunakan dan pengakuan pengaruh keuangan dari perubahan kurs vauta asing dalam laporan keuangan.

Ruang Lingkup
Pernyataan ini harus diterapkan dalam akuntansi untuk transaksi dalam valuta asing. Dimana pernyataan ini mengatur akuntansi hedge sebatas selisih kurs dalam transaksi hedge. Aspek lain dari akuntansi hedge diatur dalam standar akuntansi keuangan terkait.
Pernyataan ini tidak mengatur tentang penjabaran laporan keuangan dari kegiatan usaha luar negeri untuk tujuan konsolidasi, atau konsolidasi parsial, atau melalui penerapan dengan metode ekuitas (lihat Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 11 tentang Penjabaran Laporan Keuangan dalam Mata Uang Asing) dan pernyataan ini tidak mengatur penyajian laporan arus kas tentang arus kas yang bersumber dari transaksi valuta asing (lihat Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 2 tentang Laporan Arus Kas).